Tampilkan postingan dengan label 2 profil wirausaha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2 profil wirausaha. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Oktober 2010

PENGUSAHA ROTI

Karena gemar roti dan jenuh berkarier sebagai profesional, mantan eksekutif puncak ini mendirikan kafe berbasis roti. Ia kembangkan jaringan kafenya dengan pola waralaba dan pola operator.
Sikap low profile dan tak banyak bicara membuatnya tak begitu dikenal publik. Namun, siapa sangka di balik kebersahajaan itu, tersimpan semangat besar untuk mandiri, menciptakan sesuatu yang baru dan total. Pria berkulit terang itu kini memiliki 20 gerai bakery cafe dan bakery express dengan nama Daily Bread Bakery Cafe (DBBC), yaitu merek ciptaannya sendiri yang kemudian diwaralabakan.
Delapan tahun Eddy Sutanto berjuang keras membangun dan mengembangkan DBBC. Kini, pemilik sekaligus CEO PT Adirasa Selaras Abadi, perusahaan yang menaungi DBBC ini merasa bersyukur. Meski enggan menyebut omset, Eddy mengklaim kinerja DBBC saat ini mencapai 20 kali lipat dibandingkan pada 1996, saat DBBC diluncurkan ke pasaran. Itulah sebabnya sejak 2003 ia berani mewaralabakan kafe ini. Begitu optimistisnya, di tahun 2004 ia menargetkan menambah sekitar empat bakery cafe plus 40 bakery express.
Keberhasilan Eddy di bisnis kafe roti menarik diamati, lantaran pria bersuara bariton ini sebelumnya tak memiliki latar belakang bisnis roti ataupun kafe. Satu-satunya alasan ia berbisnis kafe roti adalah karena sejak kecil ia menyukai roti. “Saya lebih banyak makan roti daripada makan nasi,” ujarnya. Yang lebih mengherankan, keputusannya berkonsentrasi di bisnis barunya ini dilakukan ketika ia sedang berada di puncak kariernya, yakni sebagai Direktur
Keuangan dan Pengembangan Bisnis sebuah perusahaan perkebunan. “Belasan tahun saya berkarier sebagai eksekutif sampai posisi terakhir,“ ujarnya. Kariernya yang panjang sebagai eksekutif justru mendorong pria berbadan atletis ini memulai sesuatu yang baru. “Waktu itu (tahun 1996) saya berusia 40 tahun. Saya pikir masih ada kesempatan membangun usaha baru,” ungkapnya. Pilihan keluar dari perusahaan tak bisa ia elakkan lantaran ia merasa tidak fair jika ia mengembangkan usaha baru, tapi masih bekerja di perusahaan lama. Alasan lain, “Saya tak ingin setengah-setengah,“ ujarnya. “Ini memang sebuah pertaruhan,” tambahnya.
Sebelum mengembangkan kafe roti, sebenarnya Eddy sempat ditawari seorang rekan mengambil waralaba dari perusahaan besar di Amerika Serikat. Maklum, waktu itu di Jakarta bisnis berpola waralaba sedang mewabah. Hitung punya hitung, ia mengambil kesimpulan bahwa baik membeli waralaba maupun mendirikan usaha baru punya kesamaan, yakni sama-sama membutuhkan modal, waktu dan tenaga besar. Namun, waralaba punya kelemahan, yakni tak memiliki merek yang bersangkutan. “Akibatnya, jika suatu ketika merek itu besar, lalu ingin dikembangkan, pasti akan kesulitan, karena merek itu bukan milik kita,” ujarnya. Kalau merek sendiri? “Ya, banyak capek-nya,“ ujarnya lagi. Meski dinilai lebih melelahkan, dengan alasan lebih strategis ia memilih meluncurkan merek sendiri. Bersama seorang temannya, Eddy menginvestasikan dana Rp 3-4 miliar untuk membuka bisnis ini. “Kebanyakan untuk working capital,” ujarnya. Dana sebesar itu sudah termasuk biaya men-setup sistem, menyewa tempat, menyediakan infrastruktur, perlengkapan, menyewa pabrik dan sebagainya. Guna men-set up sistem dasar semacam manajemen operasional, Eddy menyewa jasa konsultan dari Inggris yang berpengalaman 35 tahun di bisnis ritel dan roti. Ia juga mendatangkan seorang ahli pembuat roti dari Belgia, agar bisa membuatkan resep roti istimewa untuk merek barunya itu.
Menurut Eddy, sebagai kafe, DBBC memang lebih dikonsepkan sebagai kafe yang menghidangkan roti ketimbang kedai minum (walaupun di situ juga disediakan minuman seperti kopi). “Yang ditekankan pada DBBC adalah mutu roti yang berkualitas, dan harga makanan dan minuman yang lebih masuk akal,” ungkapnya. Ia mencontohkan, harga secangkir kopi cappucino di kafe waralaba asing mencapai Rp 25 ribu, sedangkan di DBBC hanya Rp 10-11 ribu.
Pemilihan lokasi kafe roti di perkantoran bukanlah tanpa alasan. Menurut Eddy, hal ini merujuk pada pengalamannya sebagai eksekutif, yang biasanya tiba di kantor pada pagi hari dan membutuhkan sarapan yang cepat dan ringan. “Saya pikir office building membutuhkan fasilitas yang menunjang,” ujarnya. Penggunaan kata “daily’“ dalam merek kafenya itu, menurutnya juga terkait dengan fungsinya, yakni membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari para eksekutif.
Kendati diposisikan sebagai kafe perkantoran, gerai DBBC yang pertama justru ada di Mal Pondok Indah. Luasnya sekitar 100 m2 dengan 80 kursi. “Tapi, ini lebih untuk exposure, supaya dikenal masyarakat,” ujarnya. Setelah itu, gerai DBBC lainnya dibuka di perkantoran. Menurut Eddy, tantangan terbesarnya adalah penyediaan sumber daya manusia. “Karena industri baru, kesiapan SDM di bidang ini tak sematang bidang industri yang lain,” katanya. Itulah sebabnya, ia sering menyelenggarakan pelatihan bagi SDM-nya. “Kami ingin memperbaiki kinerja mereka dengan membuka mindset mereka,“ ujarnya.
Operasi awalnya dirasakan Eddy cukup berat karena kebanyakan orang belum mengenal DBBC. Padahal di sisi lain persaingan cukup tinggi. Ini terlihat dari omset di bulan-bulan pertama, yang hasilnya jauh dari harapan. Namun, menurutnya ini wajar. “Ketika orang pertama kali melihat suatu produk, mereka akan mempertanyakan bagaimana kualitasnya,” ujarnya penuh pengertian. Toh, ia mengaku tetap optimistis bahwa masyarakat yang makan nasi cenderung menurun, sebaliknya mereka yang makan terigu atau gandum akan meningkat. “Mungkin hal ini disebabkan karena tingkat perekonomian masyarakat yang semakin meningkat sehingga mempengaruhi kebiasaan makannya juga,” ujarnya.
Meskipun menyadari brand awareness DBBC masih rendah, Eddy tak berpromosi. Ia malah memilih menambah gerainya. “Bagi saya, daripada memasang iklan lebih baik membuat store yang banyak,” ujarnya. Ia memang meyakini, dengan gerai yang makin banyak, konsumen akan mengenal DBBC juga. Dengan keyakinan seperti ini, pada tahun pertama (1996), Eddy membuka tiga gerai sekaligus (September, Oktober, November 1996). Gerai pertamanya, selain di Mal Pondok Indah, juga di Gedung BRI II dan Bursa Efek Jakarta. Hingga 1997, total ia telah membuka 7 gerai termasuk di Setiabudi Building, Sentra Mulia, DeutchBank dan Plaza Chase. Namun karena terjadi krisis moneter, ia terpaksa menghentikan ekspansinya. Maklum, jika sebelumnya untuk membuka satu gerai hanya membutuhkan dana Rp 75 juta, setelah krismon diperkirakan memerlukan dana investasi Rp 200 juta. “Jadi, saya mencoba lebih memperbaiki (kualitas) ke dalam,” ujarnya. Toh, masa krismon tak selalu berarti jelek. Sebaliknya, angka penjualan di gerai-gerainya malah meningkat. “Sehingga apa yang tadinya kami harapkan, mulai terlihat,” ujarnya tanpa mau mengungkapkan nilai omsetnya. Ia menduga, lonjakan kehadiran konsumen ke gerai-gerainya karena adanya perubahan sikap dalam membeli makanan, terutama mencari harga yang lebih reasonable. “Mungkin tadinya mereka biasa sarapan pagi di hotel,” katanya. Menariknya, fenomena ini berlaku umum, sehingga omset semua gerainya relatif hampir sama. Toh, Eddy mengaku selama krismon ia sebenarnya juga mulai rajin memasarkan DBBC ke kantor-kantor yang terletak satu gedung dengan mereka. Tak terkecuali, ke pihak manajemen gedung. Salah satu bentuknya, penawaran jasa katering.
Selain bisnisnya ini cukup lancar, pada tahun 2004 Eddy telah memiliki total sekitar 20 gerai di seluruh Indonesia, yang terdiri dari 13 gerai bakery cafe, satu gerai just bakery (hanya ada di Hero), dan 6 gerai express bakery. Gerai just bakery dan express bakery mempunyai konsep sama, yakni toko roti dengan ukuran relatif kecil. Biasanya gerai ini diperuntukkan bagi konsumen yang ingin membeli roti tanpa harus duduk berlama-lama. Jadi, berbeda dari konsep bakery cafe. Ke depan, Eddy lebih berniat memperluas jaringan gerai DBBC dalam bentuk gerai just bakery daripada bakery cafe.
Untuk mendukung gerai-gerainya ini, Eddy menyewa pabrik pembuatan roti yang memiliki kapasitas terpasang sehari mencapai 22 ribu potong roti tawar dan 20-an ribu potong croissant, pastry, dan semacamnya. Kapasitas terpakai roti tawar sudah mencapai sekitar 50%. Adapun croissant, dll mencapai kapasitas terpakai 90%. Dalam waktu dekat, Eddy juga berencana meluncurkan gerai yang memiliki konsep sedikit berbeda dari gerai-gerai yang sudah ada. “Tapi, belum bisa ungkapkan karena sedang saya matangkan konsepnya,” ujarnya. Yang pasti, katanya sedikit membuka, letaknya tidak di gedung perkantoran atau mal, tapi sendiri di suatu bangunan yang berada di tempat strategis. “Rencananya ini akan menjadi model dan awalnya kami biayai sendiri. Karena, tidak mungkin orang lain dijadikan kelinci percobaan dulu,” ujarnya sambil tertawa lebar.
Yang juga menarik diamati, sejak 2003 DBBC sudah berani menawarkan pola waralaba. “Ini merupakan cara yang cepat untuk mengembangkan DBBC,” ujarnya. Dijelaskan Eddy, sebenarnya mereka memiliki dua bentuk kerja sama, yakni pola waralaba dan pola operator. Pola waralaba sudah cukup dikenal orang. Adapun dalam pola kedua, mitra tak akan dikenakan royalti. Yang berlaku di sini, si mitra mendapat bagian keuntungan dari jasa pengelolaan gerai DBBC. Di sisi lain, si mitra harus melakukan investasi dalam penyediaan tempat, sedangkan desain, sistem dan pasokan roti diberikan oleh DBBC. Perbedaan lain, estimasi revenue sharing yang bakal diterima si mitra pada pola operator lebih kecil daripada yang menggunakan pola waralaba. Sudah begitu, si mitra juga hanya bisa mengoperasikan satu gerai.
Berbeda dari pola waralaba, pola operator baru akan ditawarkan kepada masyarakat. Nilai investasinya diperkirakan sekitar Rp 250 juta, dengan ketentuan: yang bersangkutan harus menyediakan deposit senilai Rp 50 juta kepada DBBC, yang bakal dikembalikan. Adapun lamanya waktu sebagai operator, 3-5 tahun, tergantung wilayahnya. Khusus di Jakarta, DBBC tak menawarkan pola waralaba, sehingga kerjasama yang dimungkinkan hanya pola operator. Alasannya, untuk wilayah Jakarta, manajemen DBBC bisa menangani sendiri.
Kota-kota lain yang menjadi target pasar pengembangan DBBC adalah Bandung dan Yogyakarta. Di Kota Kembang, Eddy sudah memiliki gerai di Bandung Supermall. Bagi para mitra, DBBC kini memang cukup menarik digandeng. Tengok saja Dwi, pemegang hak waralaba DBBC di Surabaya. Menurut Dwi, ada beberapa alasan kenapa ia memilih DBBC. Pertama, rasa rotinya enak. “Saya tadinya pelanggan DBBC. Saya suka dan merasa nyaman. Padahal, tadinya saya bukan penggemar roti,” ujarnya. Kedua, konsepnya, yang mengutamakan roti sebagai produk utama. “Di tempat lain, mungkin kopinya yang diutamakan. Saya lihat belum ada kafe seperti DBBC,” ujarnya. Ketiga, pemiliknya harus full timer. “Saya merasa lebih nyaman. Karena, dengan demikian ia lebih bertanggung jawab jika terjadi sesuatu hal pada bisnis ini. Jadi, ada full commitment,” ujarnya. Keempat, yang menurutnya terpenting, harga waralabanya kompetitif. Sebagai perbandingan, Dwi mengungkapkan, harga waralaba DBBC sekitar Rp 1 miliar, sedangkan kafe lain (misalnya Gloria Jeans Coffee) mematok harga waralaba Rp 1,5 – 2 miliar.

http://pojokniaga.wordpress.com/2009/08/29/eddy-sutanto-daily-bread/.

TJONG A FIE

Tjong A Fie (1860-1921) adalah seorang pengusaha, bankir dan kapitan yang berasal dari Tiongkok dan sukses membangun bisnis besar dalam bidang perkebunan di Sumatera, Indonesia.[1][2][3] Tjong A Fie membangun bisnis besar yang memiliki lebih dari 10.000 orang karyawan.[1][3] Karena kesuksesannya tersebut, Tjong A Fie dekat dengan para kaum terpandang di Medan, di antaranya Sultan Deli, Makmun Al Rasjid serta pejabat-pejabat kolonial Belanda.[1][2][3] Pada tahun 1911, Tjong A Fie diangkat sebagai Kapitan Cina (Majoor der Chineezen) untuk memimpin komunitas Tionghoa di Medan, menggantikan kakaknya, Tjong Yong Hian.[1][3] Sebagai pemimpin masyarakat Tionghoa, Tjong A Fie sangat dihormati dan disegani, karena ia menguasai bidang ekonomi dan politik.[4] Kerajaan bisnisnya meliputi perkebunan, pabrik minyak kelapa sawit, pabrik gula, bank dan perusahaan kereta api.[4]

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting] Kehidupan awal

Tjong A Fie dilahirkan dengan nama Tjong Fung Nam (orang Hakka), di Sungkow, Meixian, Guangdong, (Tiongkok) pada tahun 1860.[1][2]
Ia berasal dari keluarga yang sederhana.[4] Bersama kakaknya Tjong Yong Hian (1850-1911), Tjong A Fie meninggalkan bangku sekolah dan membantu menjaga toko ayahnya.[4] Walaupun hanya mendapatkan pendidikan seadanya, tetapi Tjong A Fie sangat cerdas dan menguasai cara-cara berdagang sehingga usaha keluarganya cukup sukses.[4]
Tjong A Fie memutuskan untuk merantau ke Hindia Belanda (Indonesia) untuk mencari penghidupan yang lebih baik.[4] Pada tahun 1875 Tjong A Fie pergi ke Medan (Sumatera Utara) untuk mengadu nasib.[1][3] Saat itu ia baru berusia 18 tahun.[4] Dengan berbekal sedikit uang, ia menyusul kakaknya Tjong Yong Hian yang sudah terlebih dahulu datang ke Medan dan tinggal selama 5 tahun.[1][3][4] Pada saat itu kakaknya sudah menjadi kapitan (pemimpin) Cina di Medan.[4] Tjong A Fie bekerja di toko milik teman kakaknya yang bernama Tjong Sui Fo.[2][4] Di toko tersebut, Tjong bekerja dari memegang buku, melayani pelanggan, menagih utang serta tugas-tugas lainnya.[4] Ia dikenal pandal bergaul, tidak hanya dengan orang Tionghoa, namun juga dengan warga Melayu, Arab, India, dan orang Belanda.[4] Ia mulai belajar berbicara dengan bahasa Melayu yang menjadi bahasa perantara masyarakat di tanah Deli.[4]
Tjong A Fie tumbuh menjadi sosok yang tangguh, menjauhi candu, judi, mabuk-mabukan dan pelacuran.[4] Ia menjadi teladan dan menampilkan watak kepemimpinan yang sangat menonjol.[4] Ia sering menjadi penengah jika terjadi cekcok antara orang Tionghoa dengan etnis lain.[4] Di daerah perkebunan milik Belanda sering terjadi keributan di kalangan buruh yang menimbulkan kekacauan.[4] Karena kemampuannya, Tjong A Fie sering diminta Belanda untuk membantu mengatasi masalah-masalah tersebut.[4] Ia lalu diangkat menjadi Letnan Tionghoa dan pindah ke kota Medan.[4] Karena prestasinya yang luar biasa, dalam waktu singkat Tjong A Fie naik pangkat menjadi Kapitan pada tahun 1911, untuk menggantikan kakaknya yang telah wafat.[4] Dengan rekomendasi Sultan Deli, Tjong A Fie menjadi anggota gemeenteraad (dewan kota) dan cultuurraad (dewan kebudayaan) selain menjabat sebagai penasehat pemerintah Hindia Belanda untuk urusan Tiongkok.[4]

[sunting] Keluarga

Ketika masih berada di Tiongkok, Tjong A Fie telah menikahi seorang gadis yang bermarga Lie.[4] Saat tiba di Deli ia menikah dengan Nona Chew dari Penang dan memilki tiga orang anak, yakni Tjong Kong Liong, Tjong Song-Jin dan Tjong Kwei-Jin.[4] Namun istri keduanya meninggal dunia.[4] Untuk ketiga kalinya ia menikah dengan Lim Koei Yap dari Timbang Langkat, Binjai, putri seorang mandor perkebunan tembakau di Sungai Mencirim.[4] Bersama Lim Koei Yap, Tjong A Fie memiliki tujuh orang anak, yakni Tjong Foek-Yin (Queeny), Tjong Fa-Liong, Tjong Khian-Liong, Tjong Kaet Liong (Munchung), Tjong Lie Liong (Kocik), Tjong See Yin (Noni) dan Tjong Tsoeng-Liong (Adek).[4]

[sunting] Membangun usaha

Di tanah Deli, Tjong A Fie menjalin hubungan baik dengan Sultan Deli, Makmoen Al Rasjid Perkasa Alamsyah dan Tuanku Raja Muda sehingga membuka jalan baginya untuk menjalankan usaha.[4] Sultan memberinya konsesi penyediaan atap daun nipah untuk keperluan perkebunan tembakau untuk pembuatan bangsal.[4]
Tjong A Fie dikenal menjadi orang Tionghoa pertama yang memiliki perkebunan yang sangat luas.[4] Ia mengembangkan usaha perkebunan tembakau di Deli, teh di daerah Bandar Baru, dan Si Bulan, serta perkebunan kelapa.[4] Di Sumatera Barat, ia menanamkan modalnya di bidang pertambangan di Sawah Lunto, Bukit Tinggi.[4] Perkebunan yang dimilikinya mempekerjakan lebih dari 10.000 orang tenaga kerja dan luas kebunnya mengalahkan luas perkebunan milik Deli Matschapaij yang dirintis oleh Jacobus Nienhuys.[5] Bahkan, ketika itu pemerintah Belanda memberikan 17 kebun kepadanya untuk dikelola.[2]
Bersama kakaknya Tjong Yong Hian, Tjong A Fie bekerjasama dengan Chang Pi Shih, paman sekaligus konsul Tiongkok di Singapura mendirikan perusahaan kereta api The Chow-Chow & Swatow Railyway Co.Ltd. di Tiongkok Selatan.[4] Karena jasanya tersebut mereka berkesempatan bertemu muka dengan Ibu Suri Cixi di Beijing.[4]
Dalam menjalankan bisnisnya, Tjong A Fie selalu mengamalkan 3 hal yakni, jujur, setia dan bersatu.[2] Ia selau berprinsip "di mana langit dijunjung di situ bumi dipijak".[2] Ia pun membagikan lima persen keuntungannya kepada para pekerjanya.[2]

[sunting] Akhir hayat dan wasiat

Prosesi pemakaman Tjong A Fie di Medan, 1921.
Tjong A Fie tutup usia pada tanggal 4 Februari 1921 karena menderita apopleksia atau pendarahan otak.[4] Seluruh masyarakat kota Medan turut berduka, ribuan orang pelayat datang dari kota Medan dan Sumatera Timur, Aceh, Padang, Penang, Malaya, Singapura dan Pulau Jawa.[4] Prosesi Pemakaman Tjong A Fie berlangsung dengan megah sesuai dengan tradisi dan jabatannya.[4]
Empat bulan sebelum menghembuskan nafas terakhir, Tjong A Fie mewasiatkan agar seluruh kekayaannya di Sumatera maupun di luar Sumatera kepada Yayasan Toen Moek Tong yang harus didirikan di Medan dan Sungkow pada saat ia meninggal dunia.[4] Ia menuliskan permintaanya agar yayasan tersebut memberikan bantuan keuangan kepada pemuda berbakat dan berkelakuan baik dan ingin menyelesaikan pendidikannya, tanpa membedakan kebangsaan.[4] Tjong juga berpesan agar yayasan membantu mereka yang tidak mampu bekerja dengan baik karena cacat serta membantu para korban bencana alam tanpa memandang kebangsaan atau etnis.[4]

[sunting] Jasa

Tjong A Fie dikenal sangat berjasa dalam membangun kota Medan yang pada saat itu dinamakan Deli Tua, terutama kawasan pemukiman etnis Tionghoa (Pecinan).[2] Beberapa jasanya dalam usaha mengembangkan kota Medan adalah menyumbangkan menara lonceng untuk Gedung Balai Kota Medan yang lama, pembangunan Istana Maimoon, Gereja Uskup Agung Sugiopranoto, Kuil Buddha di Brayan, kuil Hindu untuk warga India, Batavia Bank, Deli Bank, Jembatan Kebajikan di Jalan Zainul Arifin serta mendirikan rumah sakit Tionghoa pertama di Medan bernama Tjie On Jie Jan.[2][5][4] Ia dikenal pula sebagai pelopor industri perkebunan dan transportasi kereta api pertama di Sumatera Utara, yakni Kereta Api Deli (DSM), yang menghubungkan kota Medan dengan pelabuhan Belawan.[2]
Tjong A Fie dikenal dermawan dan sangat dekat dengan masyarakat pribumi dan Tionghoa kota Medan sehingga ia disenangi orang-orang.[2][4] Sebagai dermawan, ia banyak menyumbang untuk warga yang kurang mampu.[2] Ia sangat menghormati warga muslim, bahkan berperan serta dalam mendirikan tempat ibadah yakni Masjid Raya Al-Mashum dan Masjid Gang Bengkok serta ikut merayakan hari-hari besar keagamaan bersama mereka.[2] Nama Tjong A Fie pernah akan dijadikan sebagai nama sebuah jalan di kota Medan, tapi dibatalkan dan jalan itu menjadi Jalan K.H. Ahmad Dahlan.[1] Karena sifatnya yang dermawan dan toleran tanpa membeda-bedakan bangsa, ras, agama dan asal-usul, Tjong A Fie senantiasa dikenang oleh warga Medan dan sekitarnya.[4]

[sunting] Rumah

Bangunan kediaman Tjong A Fie berada di Jalan Ahmad Yani, Kesawan, Medan, yang didirikan pada tahun 1900, saat ini dijadikan sebagai Tjong A Fie Memorial Institute dan dikenal juga dengan nama Tjong A Fie Mansion.[1][6][5] Rumah ini dibuka untuk umum pada 18 Juni 2009 untuk memperingati ulang tahun Tjong A Fie yang ke-150.[5][7]
Rumah ini merupakan bangunan yang didesain dengan gaya arstitektur Cina, Eropa, Melayu dan art-deco dan menjadi objek wisata bersejarah di Medan.[1][6][3] Di rumah ini, pengunjung bisa mengetahui sejarah kehidupan Tjong A Fie lewat foto-foto, lukisan serta perabotan rumah yang digunakan oleh keluarganya serta mempelajari budaya Melayu-Tionghoa

http://id.wikipedia.org/wiki/Tjong_A_Fie

BIOGRAFI IR.CIPUTRA

Profil dan Otobiografi Singkat Ir. Ciputra

Ir. Ciputra (lahir di Parigi, Sulawesi Tengah, 24 Agustus 1931; umur 77 tahun) adalah seorang insinyur dan pengusaha di Indonesia. Ciputra menghabiskan masa kecil hingga remajanya di sebuah desa terpencil di pojokan Sulawesi Utara. Begitu jauhnya sehingga desa itu sudah nyaris berada di Sulawesi Tengah. Jauh dari Manado, jauh pula dari Palu. Sejak kecil Ciputra sudah merasakan kesulitan dan kepahitan hidup. Terutama saat bapaknya ditangkap dan diseret dihadapannya oleh pasukan tak dikenal, dituduh sebagai mata-mata Belanda/ Jepang dan tidak pernah kembali lagi (pada tahun 1944). Ketika remaja sekolah di SMP Frater Donbosco Manado.

Ketika tamat SMA, kira-kira saat dia berusia 17 tahun, dia meninggalkan desanya menuju Jawa, lambang kemajuan saat itu. Dia ingin memasuki perguruan tinggi di Jawa. Maka, masuklah dia ke ITB (Institut Teknologi Bandung). Keputusan Ciputra untuk merantau ke Jawa tersebut merupakan salah satu momentum terpenting dalam hidupnya yang pada akhirnya menjadikan Ciputra orang sukses. Keputusan Ciputra untuk merantau ketika tamat SMA merupakan keputusan yang tepat, karena pada usia tersebut muncul adanya keinginan untuk bebas yang disertai rasa tanggung jawab pada diri individu. Ciputra adalah perantau yang sempurna. Dia mendapatkan kebebasan, tapi juga memunculkan rasa tanggung jawab pada dirinya.

Bagi Ciputra, perintis pengembang properti nasional sekaligus pembangun 20 kota satelit di seluruh Indonesia, pengalaman hidup susah sejak kecil adalah pemicu kesuksesannya. Ciputra yang lahir di Parigi, Sulawesi Tengah 77 tahun lalu, harus merasakan kerasnya hidup sejak usia 12 tahun, tanpa ayah. Sang ayah ditangkap tentara pendudukan Jepang dan akhirnya meninggal di penjara.

Sebagai bungsu dari 3 bersaudara, Ciputra kecil harus bergelut dengan berbagai pekerjaan untuk mencari uang membantu sang ibu yang berjualan kue. Ciputra yang mengaku sangat bandel dan nakal sejak kecil, juga harus berjalan kaki tanpa alas kaki sejauh 7 kilometer ke sekolah setiap hari. Kenakalan Ciputra terlihat dari sifatnya yang seenaknya sendiri. Saat disuruh belajar bahasa Belanda, Jepang atau China, dia malas. Dia hanya mau belajar bahasa yang dianggapnya akan berguna baginya, yaitu bahasa Indonesia. Akibatnya, saat usia 12 tahun dia masih di kelas 2 SD karena berkali-kali tinggal kelas.

Pasca ditinggal sang ayah, barulah Ciputra bangkit dan mau belajar giat hingga selalu menjadi nomor 1 di sekolah. Kegemilangan prestasi Ciputra terus berlanjut hingga mampu menamatkan kuliah di jurusan arsitektur ITB. Setelah lulus kuliah, jiwa wirausaha Ciputra mengantarkannya menjadi raksasa pengembang properti di tanah air lewat PT Pembangunan Jaya saat itu, dan akhirnya menjadi grup Ciputra. Dan hingga kini, berbagai bangunan properti yang menghiasi wajah Jakarta, tak bisa dilepaskan dari campur tangan seorang Ciputra.




Foto Buku Ciputra Way
Buku Ciputra Way




CIPUTRA, Pengusaha asal Sulawesi Tengah

Ketika mula didirikan, PT Pembangunan Jaya cuma dikelola oleh lima orang. Kantornya menumpang di sebuah kamar kerja Pemda DKI Jakarta Raya. Kini, 20-an tahun kemudian, Pembangunan Jaya Group memiliki sedikitnya 20 anak perusahaan dengan 14.000 karyawan. Namun, Ir. Ciputra, sang pendiri, belum merasa sukses. ``Kalau sudah merasa berhasil, biasanya kreativitas akan mandek,`` kata Dirut PT Pembangunan Jaya itu.

Ciputra memang hampir tidak pernah mandek. Untuk melengkapi 11 unit fasilitas hiburan Taman Impian Jaya Ancol (TIJA), Jakarta -- proyek usaha Jaya Group yang cukup menguntungkan -- telah dibangun "Taman Impian Dunia". Di dalamnya termasuk "Dunia Fantasi", "Dunia Dongeng", "Dunia Sejarah", "Dunia Petualangan", dan "Dunia Harapan". Sekitar 137 ha areal TIJA yang tersedia, karenanya, dinilai tidak memadai lagi. Sehingga, melalui pengurukan laut (reklamasi) diharapkan dapat memperpanjang garis pantai Ancol dari 3,5 km menjadi 10,5 km.

Masa kanak Ciputra sendiri cukup sengsara. Lahir dengan nama Tjie Tjin Hoan di Parigi, Sulawesi Tengah, ia anak bungsu dari tiga bersaudara. Dari usia enam sampai delapan tahun, Ci diasuh oleh tante-tantenya yang "bengis". Ia selalu kebagian pekerjaan yang berat atau menjijikkan, misalnya membersihkan tempat ludah. Tetapi, tiba menikmati es gundul (hancuran es diberi sirop), tante-tantenyalah yang lebih dahulu mengecap rasa manisnya. Belakangan, ia menilainya sebagai hikmah tersembunyi. "Justru karena asuhan yang keras itu, jiwa dan pribadi saya seperti digembleng," kata Ciputra.

Pada usia 12 tahun, Ciputra menjadi yatim. Oleh tentara pendudukan Jepang, ayahnya, Tjie Siem Poe, dituduh anti-Jepang, ditangkap, dan meninggal dalam penjara. "Lambaian tangan Ayah masih terbayang di pelupuk mata, dan jerit Ibu tetap terngiang di telinga," tuturnya sendu. Sejak itu, ibunyalah yang mengasuhnya penuh kasih. Sejak itu pula Ci harus bangun pagi- pagi untuk mengurus sapi piaraan, sebelum berangkat ke sekolah -- dengan berjalan kaki sejauh 7 km. Mereka hidup dari penjualan kue ibunya.

Atas jerih payah ibunya, Ciputra berhasil masuk ke ITB dan memilih Jurusan Arsitektur. Pada tingkat IV, ia, bersama dua temannya, mendirikan usaha konsultan arsitektur bangunan -- berkantor di sebuah garasi. Saat itu, ia sudah menikahi Dian Sumeler, yang dikenalnya ketika masih sekolah SMA di Manado. Setelah Ciputra meraih gelar insinyur, 1960, mereka pindah ke Jakarta, tepatnya di Kebayoran Baru. ``Kami belum punya rumah. Kami berpindah-pindah dari losmen ke losmen,`` tutur Nyonya Dian, ibu empat anak. Tetapi dari sinilah awal sukses Ciputra.

Pada tahun 1997 terjadilah krisis ekonomi. Krisis tersebut menimpa tiga group yang dipimpin Ciputra: Jaya Group, Metropolitan Group, dan Ciputra Group. Namun dengan prinsip hidup yang kuat Ciputra mampu melewati masa itu dengan baik. Ciputra selalu berprinsip bahwa jika kita bekerja keras dan berbuat dengan benar, Tuhan pasti buka jalan. Dan banyak mukjizat terjadi, seperti adanya kebijakan moneter dari pemerintah, diskon bunga dari beberapa bank sehingga ia mendapat kesempatan untuk merestrukturisasi utang-utangnya. Akhirnya ketiga group tersebut dapat bangkit kembali dan kini Group Ciputra telah mampu melakukan ekspansi usaha di dalam dan ke luar negeri.

Ciputra telah sukses melampaui semua orde; orde lama, orde baru, maupun orde reformasi. Dia sukses membawa perusahaan daerah maju, membawa perusahaan sesama koleganya maju, dan akhirnya juga membawa perusahaan keluarganya sendiri maju. Dia sukses menjadi contoh kehidupan sebagai seorang manusia. Memang, dia tidak menjadi konglomerat nomor satu atau nomor dua di Indonesia, tapi dia adalah yang TERBAIK di bidangnya: realestate.

Pada usianya yang ke-75, ketika akhirnya dia harus memikirkan pengabdian masyarakat apa yang akan ia kembangkan, dia memilih bidang pendidikan. Kemudian didirikanlah sekolah dan universitas Ciputra. Bukan sekolah biasa. Sekolah ini menitikberatkan pada enterpreneurship. Dengan sekolah kewirausahaan ini Ciputra ingin menyiapkan bangsa Indonesia menjadi bangsa pengusaha.




Foto Ir. Ciputra
Ir Ciputra




Ir. Ciputra Menghadapi Krisis Ekonomi

Keran KPR yang mulai mengucur, membuat aktivitas PT Ciputra Development terdengar lagi. Kelompok usaha ini semakin giat beriklan. Akankah Ciputra segera berjaya kembali? Akibat krisis ekonomi yang melanda negeri ini, sebagaimana kebanyakan pengusaha properti lainnya, Ciputra pun harus melewati masa krisis dengan kepahitan. Padahal, serangkaian langkah penghematan telah dilakukan. Grup Ciputa (GC), misalnya, terpaksa harus memangkas 7 ribu karyawannya, dan yang tersisa cuma sekitar 35%.

Lantas, semua departemen perencanaan di masing-masing anak perusahaan segera ditutup dan digantikan satu design center yang bertugas memberikan servis desain kepada seluruh proyek. Jenjang komando 9 tingkat pun dipotong menjadi 5. Akibatnya, banyak manajer kehilangan pekerjaan. Lebih pahit lagi: kantor pusat GC yang semula berada di Gedung Jaya, Thamrin, Jakarta Pusat, terpaksa pindah ke Jl. Satrio -- kompleks perkantoran milik GC. Paling tidak, dengan cara semacam itu, GC bisa menghemat Rp 4 miliar/tahun.

Sementara Harun dan tim keuangannya -- setelah susut menjadi 7 orang dan gajinya dipotong hingga 40% -- hengkang ke salah satu lantai Hotel Ciputra, Grogol, Jakarta Barat. Di tempat itu, mereka menyewa beberapa ruangan. Selebihnya, kabar yang menjadi rahasia umum: utang GC macet total.

Menurut Harun, para petinggi CD waktu itu sadar betul kondisi yang ada tidak bakalan berubah secepat yang dibayangkan. Soalnya, berlalunya krisis moneter yang belakangan bermetamorfosis menjadi krisis multidimensional sejatinya berada di luar kendali mereka. Celah yang masih terbuka hanyalah konsolidasi internal dan restrukturisasi perusahaan.

Maka, selain memangkas biaya operasional secara drastis, CD pun segera menerapkan strategi pemasaran baru: menjual kapling siap bangun. Kata Harun, selain CD kala itu hanya menyimpan sedikit stok rumah siap huni, perubahan strategi pemasaran ini juga dilakukan untuk membidik konsumen berkantong tebal. Maklumlah, mengharapkan KPR ibarat pungguk merindukan bulan. Adapun yang tersisa, ya itu tadi, pasar kalangan kelas menengah-atas. Mereka biasanya lebih suka membeli kapling karena dapat menentukan sendiri desain rumahnya.

Keuntungan lain menjual kapling tanah: berkurangnya biaya operasional. Masih menurut Harun, dengan menjual kapling siap bangun, CD cuma berkewajiban menyediakan infrastruktur seperti telepon, air, listrik dan jalan. Memang, ketimbang membangun rumah siap huni, biaya penyediaan infrastruktur relatif jauh lebih murah. Dalam perhitungan Harun, biaya yang dikeluarkan per m2-nya cuma Rp 90 ribu.

Sementara itu, bila membangun rumah siap huni, CD mesti siap menerima kenyataan jika harga bahan-bahan bangunan meningkat pesat. Besi, misalnya. Setelah kurs rupiah terhadap US$, harganya naik 60%. Sementara semen dan keramik, masing-masing meningkat menjadi 40% dan 30%. Jadi, "Tak ada alasan tidak menerapkan strategi itu," ujar Harun. Kebijakan itu berlaku di Jakarta dan di Surabaya.

Guna mendukung strategi di atas, program-program above the line juga tak luput dikoreksi. Hasilnya, dari monitoring yang dilakukan, para petinggi CD akhirnya berkesimpulan, mubazir bila beriklan gencar di masa krisis. "Seperti membunuh tikus dengan memakai bom," jelas Harun. Alhasil, pilihan kemudian jatuh pada penjualan langsung. Bahannya diolah dari database konsumen milik CD. Dan supaya lebih terarah, database diolah lewat pembentukan klub-klub penjualan, di Jakarta maupun Surabaya.

Namun, apa daya, meski harga kapling siap bangun belum dinaikkan dan tim pemasaran bekerja sekeras mungkin, toh strategi itu tidak langsung membuahkan hasil yang memuaskan. Lebih dari Tiga bulan, konsumen yang tertarik dengan ratusan hektare tanah matang milik CD yang dijual dalam bentuk kapling siap bangun -- dari total 1.800 har landbank (tanah mentah) CD yang tersebar di Jakarta dan Surabaya -- bisa dihitung dengan jari.

Kata Harun, petinggi CD lagi-lagi sadar para pemilik uang sesungguhnya lebih memilih mendepositokan uangnya ketimbang membeli kaping siap bangun. Maka, "Tahun 1998 adalah tahun yang paling sulit yang pernah dilalui CD," kenangnya. Masalahnya, uang yang masuk selama setahun cuma Rp 40 miliar.

Itulah nilai total hasil penjualan lima proyek perumahan di Jakarta dan Surabaya milik CD. Jelas, ketimbang tahun-tahun sebelumnya, saat kondisi ekonomi masih normal, kenyataan tersebut benar-benar menyakitkan. Sebelum krisis, dari satu proyek saja, CD bisa meraup uang sebanyak Rp 10 miliar/bulan. Artinya, angka Rp 40 miliar tersebut biasanya dicapai hanya dalam sebulan.
Yang lebih menyesakkan, menurut sumber SWA, Pak Ci ikut-ikutan menambah beban psikologis pasukannya. Hampir setiap hari CEO GC itu uring-uringan tanpa sebab yang jelas. Seingatnya,waktu itu Pak Ci jarang bertanya kepada anak buahnya bagaimana sebenarnya kondisi di lapangan. "Ia malah seperti tak habis-habisnya melakukan pressure kepada timnya," jelas si sumber.

Dan lucunya lagi, bahkan di luar dugaan banyak orang -- sang sumber sendiri kaget luar biasa -- Pak Ci sampai-sampai "menodong" seorang pemuka agama agar jemaat gerejanya membeli kapling siap bangun di salah satu proyek perumahan CD. "Benar-benar tidak masuk akal," ungkap sumber. Benarkah? "Bohong. Kalau stres, siapa yang tidak stres waktu itu," bantah Harun.

Untunglah, bersamaan turunnya suku bunga deposito di awal 1999, strategi itu mulai menampakkan hasil. Kecil memang, tapi, "Kami sudah mulai sibuk," ujar Harun. Ia menunjuk aktivitas penjualan kapling siap bangun, khususnya yang di Surabaya. "Di kota ini, penjualannya cukup bagus."

Sayang, Harun tak bersedia menyebutkan nilai transaksi di Kota Buaya. Yang jelas, tidak seperti di Jakarta, jumlah item kapling siap bangun yang ditawarkan CD di Surabaya lumayan variatif. Dari segi luas contohnya, 1.200-2.000 m2 dengan harga jual minimal: Rp 600 ribu/meter2. Selain itu, ada pula kapling golf -- posisinya berhadapan atau di sekitar lapangan golf. "Kapling jenis ini, sekalipun lebih mahal, tampak paling disukai," jelas Harun.

Bagaimana dengan Jakarta? Kendati kapling yang dijual hanya berukuran 200-500 m2, angka penjualannya tidak sebagus di Surabaya. Dan kapling yang disukai konsumen kebanyakan yang berukuran 400 m2 seharga Rp 225-500 ribu/m2. Menurut Harun, hal itu terjadi karena tingkat persaingan di Jakarta lebih ketat ketimbang di Surabaya. Soalnya, "Ada banyak proyek serupa di sini," ujarnya. Dan, yang lebih penting, kapling golf bukanlah hal yang istimewa bagi banyak konsumen metropolitan. "Jadi, penawaran kami sama seperti yang lain. Karena itu pula, bisa jadi konsumen mencari yang lebih murah."

Seperti yang sudah-sudah, tutur menantu Ciputra itu, kebutuhan konsumen di Jakarta sejatinya adalah rumah siap huni yang dilengkapi fasilitas KPR. Karena itu, bermodalkan pendapatan hasil penjualan kapling siap bangun plus tersedianya sarana KPR, CD pun mulai menggiatkan pembangunan rumah siap huni, di Citra Raya Tangerang, Citra Indah Jonggol, Citra Grand Cibubur ataupun Citra Cengkareng.

Bersamaan waktunya, CD pun kembali rajin beriklan. Namun, tidak seperti tiga tahun lalu, kini belanja iklannya diatur ketat. Indikator pertama yang dihitung sebelum mengeluarkan uang untuk berpromosi di berbagai media cetak adalah jumlah total hari libur dalam setiap bulan. Yang jelas, sebulan CD beriklan tak lebih dari tiga kali. "Bukan apa-apa. Kami hanya ingin iklan itu bisa efektif mencapai sasaran," katanya. Ia menambahkan, klub-klub penjualan yang dulu sempat dibentuk tetap diteruskan.

Hanya saja, lagi-lagi sayang, Harun mengaku tidak ingat persis jumlah uang yang masuk ke kocek CD setelah perusahaan properti yang dipimpinnya itu kembali rajin beriklan. Ia hanya mengatakan, "Cash flow kami cukup aman." Ditambah semakin membaiknya daya beli konsumen, Harun pun optimistis, CD dan GC bisa berkibar kembali. Namun, tentu saja, ia mengaku, "Tidak seperti dulu lagi

http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?judul=Ir%20Ciputra%20Pengusaha%20Sukses,%20Sebuah%20Inspirasi&&nomorurut_artikel=314

PENGUSAHA TOKO BUKU

Bisnis toko buku dan toko swalayan milik Yaslinur, alumnus Fakultas Peternakan IPB, yang ada di Bogor, Bandung, Jakarta dan Lampung mungkin belum setenar dan sebesar toko buku Gramedia atau toko swalayan Yogya. Namun yang unik dan berbeda adalah upaya pria kelahiran Sawahlunto, Sumatera Barat pada tahun 1968 ini untuk mendapatkan modal ketika memulai usaha, yakni dengan konsep syariah.
Pemicunya adalah terhentinya bantuan biaya kuliah dari sang paman sebesar Rp 60 ribu per bulan. Lantas, Yas pun mencoba menyambung hidup mulai dari berdagang kaos kaki, menjadi penjaga masjid kampus IPB, berjualan buku di masjid, sampai memasok beras untuk warung nasi.
Kesulitan mengembangkan usaha karena kekurangan modal mendorong Yas membuat proposal untuk membuka toko buku dan busana muslim dengan sistem bagi hasil atau mudharabah. Dalam sistem bagi hasil ini satu pihak murni bertindak sebagai pemilik modal dan pihak lain menjadi pengelola, lalu hasil usaha dibagi sesuai dengan kesepakatan.
Proposal bisnis yang membutuhkan dana Rp 12 juta itu membahas soal bunga dan analisis kelayakan usaha ditinjau dari sisi keuangan, teknis dan sosial budaya. Sepuluh proposal itu dikirimkannya ke beberapa orang berduit di Jakarta dan Bogor. Sayang, sambutan yang diterimanya tak sesuai dengan harapan. Ia cuma berhasil mendapatkan dana pinjaman satu juta rupiah sehingga ditambah dengan modalnya sendiri menjadi Rp 1,46 juta.
Yas kemudian merubah taktik, sasaran proposal adalah penerbit buku Islam dan pengusaha busana muslim untuk mendapatkan pasokan barang dengan sistem konsinyasi. Usaha ini berhasil menarik satu penerbit dan satu pengusaha konveksi yang bersedia memasok barang, sisanya Yas harus membeli barang dengan sistem putus.
Akhirnya, Juni 1991 Yas mulai membangun toko berukuran 3×4 meter yang dikontraknya seharga Rp 1 Juta di Jl. Otista, Bogor. Toko yang dinamainya “Al-Amin” itu baru kedatangan pembeli setelah dua minggu dibuka, sampai akhirnya mulai menuai Rp 40 ribu per hari.
Tiga bulan kemuadian Yas mulai melebarkan sayap dengan membuka toko lain di Jakarta, Bandung dan Bogor. Omzetnya melonjak menjadi Rp 400 ribu per hari. Kesuksesannya banyak mendapatkan tawaran kerjasama dan bantuan modal. Berikutnya, Yas membuka toko swalayan yang secara khusus
dikembangkan di tingkat kecamatan dan ditujukan untuk membantu masyarakat miskin memperoleh barang dengan harga miring. Kini Yas memiliki tiga toko buku dan empat swalaan dengan total 120 karyawan dan omzet usahanya bisa mencapai ratusan juta rupiah per bulan.
Untuk mengembangkan usahanya itu Yas mencari mitra bisnis dengan menawarkan konsep sirkah atau musarokah. Maksudnya, satu pihak sebagai pemilik modal, pihak lain bertindak sebagai pengelola, namun pengelola juga bisa ikut menanamkan modal dan sebaliknya. Lantas keuntungan usahanya dibagi berdasarkan persentase.
Sejak ditawarkan pada tahun 1997, Yas sudah berhasil mengajak lebih dari 700 orang menjadi anggota syirkah dengan penyertaan modal minimal Rp 100 ribu. Dan Andapun bisa meniru cara Yas untuk mencari modal usaha.

http://pojokniaga.wordpress.com/2009/08/31/yaslinur-toko-buku-al-amin/

PUSPO WARDOYO

Impian Puspo Wardoyo membuat “jarak” antara Solo-Medan lebih dekat dibanding Solo-Semarang terwujud sudah. Jarak di sini lebih tepat diartikan waktu tempuh dibanding pengertian fisik yang dihitung berdasarkan satuan kilometer antara dua titik kota. Impian itu sendiri terinpirasi oleh cerita seorang pedagang bakso yang sukses mengarungi hidup di Medan. Ketika pria kelahiran 30 November 1957 itu tengah merintis usaha warung lesehan di Solo selepas mengundurkan diri dari pegawai negeri sipil, suatu saat pedagang bakso asal Solo tersebut bertandang ke tempat Puspo. Dia bercerita bahwa peluang usaha warung makan di Medan sangat bagus. Pedagang bakso itu telah membuktikannya. Dalam sehari ia bisa meraup keuntungan bersih di akhir tahun 1990 itu sekitar Rp 300.000. Dari keuntungan berjualan bakso dengan gerobak sorong itulah teman Puspo ini bisa pulang menengok kampung halamannya di Solo setiap bulan. “Dengan uang, jarak antara Solo-Medan lebih dekat dibanding Solo-Semarang, ” kata Puspoyo menirukan ucapan temannya tadi. Wajar saja jika dengan pesawat terbang waktu tempuh antara Medan-Solo dengan berganti pesawat di Jakarta hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Sementara dengan naik bis jarak antara Solo-Semarang ditempuh sekitar empat jam.
Cerita sukses temannya itu begitu membekas di benak Puspo. “Saya bertekad bulat akan merantau ke Medan, ” pikirnya. Untuk mewujudkan keinginannya itu, apa boleh buat, warung makan yang termasuk perintis warung lesehan di kota pusat kebudayaan Jawa itu pun ia jual kepada temannya. Uang hasil penjualan yang tak seberapa itu ia manfaatkan untuk membeli tiket bus ke Jakarta. Mengapa Jakarta? “Karena dengan uang yang saya miliki, bekal saya belum cukup untuk merantau ke Medan, ” katanya.
Ketika tengah merantau di ibu kota itu, suatu hari Puspo membaca lowongan pekerjaan sebagai guru di sebuah perguruan bernama DR Wahidin di Bagan Siapiapi, Sumatera Utara. Apa boleh buat, demi mewujudkan cita-citanya, ia berusaha mengumpulkan modal dengan kembali menjadi guru. Bedanya, kali ini ia tidak lagi menjadi pegawai negeri seperti sebelumnya ketika menjadi staf pengajar mata pelajaran Pendidikan Seni di SMA Negeri Muntilan, Kabupaten Magelang. “Target saya cuma dua tahun menjadi guru lagi,” katanya. Di sinilah anak pasangan Sugiman-Suki ini ketemu dengan isteri pertamanya Rini Purwanti yang sama-sama menjadi tenaga pengajar di
sekolah tersebut.
Dua tahun menjadi guru ia berhasil mengumpulkan tabungan senilai Rp 2.400.000. Dengan uang inilah keinginannya menaklukkan kota Medan tak terbendung lagi. Uang tabungan itu sebagian ia gunakan untuk menyewa rumah dan membeli sebuah motor Vespa butut. Masih ada sisa Rp 700. 000 yang kemudian ia manfaatkan sebagai modal membangun warung kaki Iima di bilangan Polonia Medan. Disini ia menyewa lahan 4×4 meter persegi seharga Rp 1.000 per hari. Siapa sangka jika dari sebuah warung kecil ini kemudian melahirkan sebuah usaha jaringan rumah makan yang cukup kondang di seantero Medan. Impian untuk menaklukkan “jarak” Solo-Medan lebih dekat dibanding Solo-Semarang pun menjadi kenyataan.
Bukan itu saja, penilaian atas prestasi bisnis yang dirintis Puspo lebih jauh melewati impian yang ia tinggalkan sebelumnnya. Dari ibu kota Sumatera Utara ini nanti Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo (Wong Solo) melejit ke pentas bisnis nasional. Belakangan ini nama Wong Solo semakin berkibar-kibar setelah berhasil menaklukkan Jakarta setelah sebelumnva “mengapung” dari daerah pinggiran.
Dalam waktu relatif singkat kehadiran Wong Solo telah merengsek dan menanamkan tonggak-tonggak bisnisnya di pusat kota metropolis ini. Ekspansinya pun semakin tak tertahankan dengan memasuki berbagai kota besar di Indonesia. Fenomena Wong Solo mengundang decak kekaguman berbagai kalangan dari pejabat pemerintah, para pelaku bisnis hingga para pengamat. Hampir semua outletnya di Jakarta selalu sesak pengunjung, terutama di akhir pekan dan hari libur. Bahkan ketika bulan Ramadhan kemarin, semua outlet tersebut membatasi jumlah pengunjung saat berbuka puasa.
Skala usaha Wong Solo itu memang belum sekelas para konglomerat masa lalu yang dengan enteng menyebut angka aset, omset atau keuntungan per tahun yang triliunan rupiah. “usaha saya memang belum kelas triliunan seperti para konglomerat yang kaya utang itu,” paparnya. Kendati masih tergolong usaha menengah, namun kinerja wong Solo sangat solid dan tak punya beban utang. Ia memiliki pondasi kuat untuk terus berkembang.
Untuk mewujudkan mimpi-mimpinya, ayah sembilan anak dari empat istri ini telah melewati rute perjalanan yang berlika-liku lengkap dengan segala tantangannya. Ada masa ketika di waktu-waktu awal merintis usaha di Medan ia nyaris patah semangat gara-gara selama berhari-hari tak pernah meraih untung. Hanya berjualan dua atau tiga ekor ayam bakar plus nasi, terkadang dalam satu hari tak seekor pun yang laku. Pernah pula seluruh dagangannya yang telah dimasak di rumah tumpah di tengah jalan karena jalanan licin sehabis hujan. “Apa boleh buat, saya terpaksa pulang dan memasak lagi”. katanya.
Istrinya yang tak sabar melihat lambannya usaha Puspo bahkan sempat memberi tahu ayahnya agar mempengaruhi Puspo supaya tak berjualan ayam bakar lagi. “Mertua saya bilang, kapan kamu akan tobat ?” katanya menirukan ucapan sang mertua. Tantangan terbesar mungkin saat ia menghadapi kenyatan satu cabang Wong Solo miliknya yang baru dibangun langsung dibongkar oleh Pemda medan. Pasalnya cabang ini dibangun tanpa Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan dinilai mengganggu kenyamanan warga.
Pada awal perantauannya ke Medan, Puspo wardoyo, sama sekali tak menyangka jika usaha warung ayam bakar “Wong Solo” akan berkembang seperi sekarang. Maklum, rumah makan yang dibukanya hanyalah sebuah warung berukuran sekitar 3×4 meter di dekat bandara Polonia, Medan. Setahun pertama dia hanya mampu menjual 3 ekor ayam per hari yang dibagi-bagi menjadi beberapa potong. Harga jual per potongnya Rp 4.500 plus sepiring nasi. Di tahun kedua, naik menjadi 10 ekor ayam per hari. Namun sekarang, 13 tahun kemudian, dia memiliki lebih dari 16 cabang tersebar di Medan, Banda Aceh, Padang, Solo, Denpasar, Pekanbaru, Surabaya, Semarang, Jakarta, Malang dan Yogyakarta.
Meskipun masih mengandalkan ayam bakar, namun menunya kini makin beragam hingga 100 jenis. Mulai dari berbagai jenis makanan yang berbahan baku ayam sampai bebek, berbagai jenis ikan dan sea food, sayur-sayuran, sambal, sampai tempe dan tahu. Tersedia pula berbagai jenis minuman ringan dan aneka juice. Salah satunya juice khas “Wong Solo” adalah Poligami Juice.
Dia mengatakan, ”Prinsip bisnis kami sesuai dengan ajaran Al Qur’an bahwa suatu pekerjaan haruslah dapat menyelamatkan diri dari siksa api neraka”. Sudah terbiasa bagi Wardoyo untuk menyisihkan 10 % dari keuntungannya untuk amal. Dia percaya, Tuhan akan memperkaya orang yang banyak beramal. Dengan tetap menghidupkan roh agama dalam bisnisnya, wardoyo tak segan-segan mengangkat “penasehat spiritual” Prof. Dr Syahrin Harahap, MA, Guru Besar IAIN Sumatra Utara. Maka jangan heran bila Anda kebetulan mampir di salah satu rumah makannya menyaksikan karyawannya sedang berkerumun di saat menjelang atau usai jam kerja. Mereka sedang melaksanakan ibadah “kultum” atau kuliah tujuh menit.
Promosi dari mulut ke mulut membuat warungnya makin terkenal. Terlebih ketika seorang wartawan daerah membuat tulisan tentang “Wong Solo”, makin ramai saja orang yang makan ke warungnya. Pernah suatu hari dia kewalahan memenuhi pesanan pelanggan. Di saat tiga ekor ayam jualannya habis, datang pembeli lain yang bersedia menunggu asalkan Wardoyo mau mencari ayam baru ke pasar. Dia pun memenuhi permintaan pelanggan tersebut dengan membeli tiga ekor ayam lagi. Namun datang lagi pelanggan lain yang juga bersedia menunggu Wardoyo mencari ayam ke pasar. “Seharian itu, hingga larut malam saya pontang panting ke pasar untuk memenuhi permintaan konsumen yang terus berdatangan,” kata Wardoyo mengenang.
Bersamaan dengan bertambahnya pelanggan, dua tahun kemudian Wardoyo memperluas warungnya hingga layak disebut rumah makan. Jiwa seni Wardoyo nampak tergurat pada bentuk bangunan dan penampilannya yang cenderung “nyeleneh”. Dalam bentuk bangunan, misalnya, Wardoyo tak segan-segan mengeluarkan uang cukup besar untuk membayar seorang arsitek guna mewujudkan imajinasinya terhadap suatu bentuk bangunan.
Perpaduan seni dan entrepreneurship Wardoyo juga tertuang dalam pendekatan terhadap konsumen. ”Saya berusaha menghafal nama-nama semua pelanggan saya. Sehingga sewaktu mereka datang saya harus menyambut mereka dengan menyebut namanya,” papar Wardoyo. Inilah yang disebutnya sebagai “menjadikan pelanggan sebagai saudara”.
Seiring dengan berkembangnya “Wong Solo”, puspo wardoyo membuka kesempatan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk ikut menikmati nilai tambah Wong Solo melalui sistem waralaba. Perjanjian pemilikan waralaba ini diberikan kepada perorangan atau yang diberi kuasa, dan atau badan hukum dengan masa pengoperasian selama 10 tahun.
Hak tersebut mencakup penggunaan merek dagang “Wong Solo”, desain dan dekorasi rumah makan. Merek dan peralatan, tata letak, resep dan jenis makanan, sistem kontrol inventori, metode operasional, pembukuan dan akuntansi, serta pemasaran dan hak untuk menempati dan mengisi rumah makan “Wong Solo”.
Untuk waralaba tersebut, Wardoyo telah membuat standarisasi dalam hal rasa dan gerai (outlet). Jika seseorang membeli waralaba “Wong Solo” di Jakarta, dipastikan sama rasa dan penataan gerainya dengan “Wong Solo” Medan atau di tempat lain. Adapun kewajiban finansial pewaralaba adalah, pertama, membayar uang pendaftaran awal sebesar Rp 500.000. Kedua, membayar biaya pelayanan (royalty/service fee) bulanan berdasarkan persentase tertentu dari penjualan kotor sebesar 12 persen yang dapat dinegosiasikan. Sementara harga sebuah waralaba yang dijual “Wong Solo” terbagi beberapa tipe. Untuk tipe A Rp 700 juta, tipe B Rp 525 juta, tipe C Rp 350 juta, tipe D Rp 225 juta. Dana tersebut digunakan untuk membangun restoran, peralatan, praoperasi, waralaba fee selama 5 tahun, dan hak waralaba selama 10 tahun.
Setelah sukses membesarkan “Wong Solo”, apa harapan Puspo Wardoyo selanjutnya ? dengan sungguh-sungguh dia menyahut, ”Ingin terus bekerja keras, kaya raya, banyak istri, dan masuk surga.”

http://pojokniaga.wordpress.com/2009/08/31/puspo-wardoyo-ayam-bakar-wong-solo/.